Literasi Digitalisasi Pendidikan Siswa Hari Ini: Antara Akses dan Arah

Irfan Fadli, S.P, M.MA Akademisi dan Praktisi Pendidikan

SCN | RIAU - Literasi pada dasarnya adalah kemampuan seseorang untuk memahami, mengolah, dan menggunakan informasi secara tepat. Kegiatan ini mencakup membaca, menulis, berbicara, serta kemampuan berpikir untuk memecahkan masalah.

Dalam perkembangan saat ini, literasi tidak lagi hanya berkaitan dengan buku, tetapi juga dengan dunia digital yang semakin dekat dengan kehidupan siswa.

Namun, kondisi yang terlihat hari ini menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi oleh siswa belum sepenuhnya terarah. Banyak siswa lebih sering menggunakan gawai untuk berselancar di dunia maya tanpa tujuan yang jelas dibandingkan untuk belajar. 

Hal ini juga tidak terlepas dari peran pendampingan guru yang terkadang masih terbatas pada pemberian tugas, tanpa pengawasan dan arahan yang cukup dalam penggunaan teknologi.

Padahal, guru memiliki peran penting dalam membimbing siswa agar mampu menggunakan teknologi secara bijak. 

Literasi digital seharusnya membantu siswa dalam mencari dan memahami ilmu, bukan justru membuat mereka kehilangan arah. Jika tidak diarahkan dengan baik, penggunaan teknologi bisa berdampak pada menurunnya kecerdasan emosional siswa.

Beberapa perubahan sikap mulai terlihat, seperti kurangnya kepedulian, mudah bersikap negatif, atau berpendapat tanpa dasar yang kuat. Ada juga kecenderungan menjadi malas belajar, sulit fokus, dan kurang mampu mengontrol diri. 

Hal ini banyak dipengaruhi oleh kebiasaan menghabiskan waktu di dunia digital tanpa tujuan yang jelas.

Informasi yang tidak benar atau hoaks pun mudah diterima, karena belum semua siswa mampu menyaring informasi dengan baik.

Selama ini, digitalisasi pendidikan sering dianggap mampu meningkatkan kecerdasan siswa karena akses informasi menjadi lebih cepat.

Namun, hal ini perlu diimbangi dengan pembentukan karakter dan kecerdasan emosional. Jika tidak, maka teknologi yang seharusnya membantu justru bisa memberi dampak negatif.

Kasus seperti perundungan di kalangan siswa, baik terhadap teman maupun guru, bisa menjadi gambaran bahwa ada yang kurang seimbang dalam proses pendidikan saat ini. Sayangnya, kasus seperti ini sering hanya diselesaikan di permukaan tanpa melihat penyebab yang lebih dalam.

Beberapa negara sudah mulai mengambil langkah untuk mengatasi hal ini. Prancis, misalnya, telah menerapkan pembatasan penggunaan ponsel di sekolah sejak 2018. Kebijakan ini bertujuan agar siswa lebih fokus dalam belajar dan tidak terganggu oleh penggunaan gawai yang berlebihan.

Di Indonesia, langkah serupa juga perlu dipertimbangkan, Penggunaan teknologi tetap penting, tetapi harus diatur dengan baik. Sekolah perlu menyediakan fasilitas teknologi yang memadai, namun juga membatasi penggunaan gawai di lingkungan belajar, Selain itu, kebiasaan membaca buku secara langsung dengan sumber yang jelas dan ilmiah juga perlu terus dibangun.

Pada akhirnya, literasi digital bukan hanya soal bisa menggunakan teknologi, tetapi bagaimana teknologi itu digunakan dengan benar., Tujuannya adalah agar siswa tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki sikap dan karakter yang baik.

Di sisi lain, perlu juga disadari bahwa kebijakan terkait penggunaan gawai di sekolah sebaiknya benar-benar berfokus pada kepentingan pendidikan. 

Jangan sampai ada pengaruh dari kepentingan bisnis, terutama dari industri seluler, yang dapat memengaruhi arah kebijakan. Pendidikan seharusnya tetap menjadi ruang untuk membentuk generasi yang lebih baik, bukan sekadar menjadi bagian dari kepentingan pasar.

oleh: Irfan Fadli, S.P, M.MA
Akademisi dan Praktisi Pendidikan

Tags :Sosial
Komentar Via Facebook :

Berita Terkait